
“ AAC” beberapa hari lagi tepatnya mulai Kamis, 28/2, direncanakan dapat ditonton di layar lebar. Tentu film yang diangkat dari novel pembangun jiwa karya Habbiburahman El Shirazy sangat ditunggu-tunggu kehadirannya.
Setelah melalui proses panjang akhirnya novel legendaris dan best seller nasional, plus penjualannya sukses diterima di Malaysia maupun Asia Tenggara, akhirnya dapat tembus juga di layar lebar. Bagi peminat novel yang telah lama menunggu, tentu tak akan melewatkan begitu saja, di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.
Tentu tokoh-tokoh sentral seperti Fahri, Maria, Aisha, Noura maupun Nurul dapat hadir di layar lebar. Dengan background kisah di negeri Mesir, diharapkan film ini merupakan suatu terobosan baru bagi dunia perfileman kita, lewat settingan tempat cerita maupun kisahnya. Hingga peminat novel “AAC” yang selama ini menikmati dalam bentuk novel tulisan, kini dapat dinikmati melalui audio visual.
Bintang-bintang pemain “AAC” Fedi Nuril, Rianti R Cartwright, Melanie Putria, Zaskia Adya Mecca dan Carissa Putri tentu akan mewarnai kisah seru film ini. Isu tema film dari konflik hidup, konflik cinta maupun dakwah Islam yang tak terkesan menggurui tentu memberikan pelajaran bagi yang menontonnya.
Suatu kewajaran tentunya film ini, nanti akan ada yang pro dan kontra mendukung pengangkatan film “AAC” di layar lebar. Di satu sisi mayoritas masyarakat muslim di tanah air tentu mendukung, sebab realita film-film kita di tayangan bioskop masih bertema tentang cinta dan mistik. Di sisi yang lain bagi yang kurang mendukung tentu diharapkan mencarikan solusi dari kritik yang disampaikan.
Walhasil bagiamanapun juga “AAC “ tentu ditunggu oleh kawula muda maupun peminat yang lain. So, bagi yang penasaran tonton film ini, ya.. Adapun yang tidak minat dapat memberikan masukan bagaimana baiknya film semacam ini jika nantinya akan ada lagi di pentas panggung perfileman di negeri tercinta.







insya Allah
nonton dimana ya…
Alhamdulillah, insyaAllah andai bobot materi???+ hasil filmnya bagus aku setuju+dukung ajah. maklum film2 skrg di poles religi walaupun sarat dgn bermacam konflik hidup&cinta (yg pasti kefulgaran isi cerita+penggambaran terlalu ter-angan/tak nyata/terlalu jauh yg menjadikan khalayak berfikir jauh kedepan/berandai2 ttg isi/alur cerita? yg menjadikan mereka haus dan dahaga selalu berlomba mencari/menonton, tak menyelami isi/makna dalamnya tp menjadikan alur cerita sebagai penggambaran hidup dan angan2nya?? Subhanallah….., semoga film/novel/apapun itu janganlah menjadikan 5,10, 50thn lagi ato 2,3 generasi setelah kita terbuai?? tp tetap terjaga sbg generasi yg betul2 ISLAMI yg berpegang teguh ajaran Rasul dan sunah2Nya.
mau sich nontonnya tapi…..dengan siapa ya??????????????coz ngga ada temen yang mau di ajak lalajo,tapi kayanya sungguh sangat keren nich film ini,tapi dalam film ini yang paling I like adalah zaskia adya mecca. emang kalau boleh tahu mas indri udah nonton?kalau udah dengan siapa?jangan jangan dengan si dia He…..3X
hmm…InsyaAllah pengen nonton juga…sekalian ngabisin liburan hehehe…..
Kalo kata G sih semua film juga bisa dijadiin pencerahan. Ga melulu harus film yang menjual bau-bau agama didalamnya.
Proses pembuatan filmnya pasti luar biasa. Bisa terbayang. G juga orang yang suka banget seni. Dan emang konsern ma seni. G hanya menilai kurang tuh biasanya dari sebuah teks yang terkumpul di sebuah novel biasanya menjadi hilang greget ketika difilmkan. Ga tau kenapa. Kadang bahkan selalu saja begitu. Mungkin karena melalui bukunya kita menjadi lebih tereksplor pikiran kita untuk membayangkan sesuai dengan khendak kita. Kalau dalam film kan jadinya dibatasi oleh kehendak si sutradara.
Perihal ummat n ormas ISlam bikin film, wahhh ini G setuju banget. G dari dulu memmipikan ini. Syukur2 ada yang bikin film ISlam sedahsyat Lord Of The Rings tapi temanya perang penaklukan konstantinopel. Dijamin bakal box office deh.
MAsalah setuju ga setuju, G mah diluar itu semua. Toh filmnya juga ga melabelisasi dirinya sebagai film Islam. Sah-sah saja mo gimana pun. Banyak kok film yang terkesan Islam seperti Kandahar, OSama, The War Within tapi isinya malah mendeskridikan Islam. So, menurut G sih silakan aja berkarya Asal jangan Jual Islam untuk kepentingan pribadi:) Jadi inget tulisannya Eko Prasetyo. hehehehe
Aww…
Saya udah nonton filmya kang…
kira-kira 2 minggu yang lalu..
(halah… pasti kaget yah… he..he..)
Memang ada benar juga sih pendapat yang mengatakan, kebanyakan film yang diangkat dari sebuah novel memiliki kualitas yang tidak sebagus novelnya….
Bagi yang belum pernah membaca novelnya, mungkin tidak akan terlalu merasakan ada masalah…
namun sebaliknya, bagi yang telah membaca, kemungkinan besar akan sependapat dengan saya..
berikut ini pendapat dari saya:
Jika diniliai dari sisi sountrack dan visual efek, sesungguhnya dapat dinilai bahwa sang sutradara sudah berupaya cukup keras unutk menciptakan mood yang tepat unutk film ini.
Namun jika dinilai dari sisi penghayatan peran dari para pemerannya sejujurnya saya merasa agak kecewa..
Pemeran Fahri,Aisha dan Maria, kurang berhasil menghayati perannya… saya tidak bgitu merasakan karakter yang bijaksana dari sosok fahri pada film ini, begitu pula aisha yang tidak selembut dan setegar pada novelnya… kemudian maria yang .. alah…
Tambahan pula, saya banyak menemukan scene yang tidak sinkron dengan isi novelnya, dan terkesan diimprovisasi namun tidak merepresentasikan konteks yang sama dengan yang dituangkan Habiburrahman Elshirazy pada novelnya… khsusnya pada scene terakhir yang berkaitan dengan poligami… pada scene ini terlihat terjadi pergeseran makna dan ini bisa menimbulkan multi interpretasi pada penonton.. saya melihat bahwa cara menmpilkan poligami pada film ini lebih berdasar kepada sudut pandang sang sutradara ketimbang sudut pandang Islam…
Memang, tidak bisa dipungkiri bahwa tidaklah mudah untuk memvisualisasikan sebuah novel menjadi film yang berkualitas tinggi, namun disinilah letak tantangannya…
Tadinya saya berharap film ini bisa menjadi masterpiece film indonesia…
Yah, smoga saja suatu saat, akan ada film yang seperti itu dari Indonesia..
Yah ini hanya pendapat pribadi saya saja, setiap orang bebas memberikan interpretasi yang berbeda…
Wass.. (Mau kulia dulu kang… :p)
Assalammualaikum..Pak…Mas…Kang…Andri
AAC, wah dimana-mana jadi buah bibir..nih!
Jujur saya hanya nonton film tsb selama 15 menit selanjutnya tidak saya teruskan karena nggak dapet gregetnya dan tidak membuat penasaran untuk menyelesaikan nonton film tersebut. Pertanyaanya apakah setelah nonton film tersebut akan membuat kita lebih bersemangat untuk menjalani hidup ataukah akan lebih menjadi orang yang lebih sentimentil and sensitif.
Menurut saya AAC telah menjadi salah satu film Indonesia yang PYURRR banget bertema cinta kepada lawan jenis (mannna spiritnya) ..ya mungkin bedanya pada film AAC ada kalimat TOYYIBAHNYA…cadarnya…jilbabnya dll (ati-ati apakah film akan membantu kita untuk punya spirit berislam dengan baik atawa sebaliknya).
Tapi buat siapapun yang akan dan telah menontonya mudah-mudahan bermanfaat!
Wassalamm
Iya, rencananya sih mau nonton… penasaran aja katanya novelnya bagus… Sy sempet baca tp ngga selesai, ga tau kenapa kok ngelawan arus ya… belum bisa menikmatinya… Nanti dicoba baca lagi deh….
Hmmm… selayaknya kita dukung aja film2 beraroma seperti ini, dari pada marak film2 cinta remaja (pacara,-red), hantu2an, dan film yang seputar ranjang.
maju terus film2 bermutu ^_^
Sudah nonton pak? Hayohh sama siapa nontonnya
Yups…insyaAlloh jadi nonton,tapi sama sopo yo..?mosok sendiri…Nonton di Jakarta wae ayo mas,piye?
ass…
to the point.
film ini dilihat dr alur cerita, suasana, nilai islam, dapat dinilai “BERMUTU” tetapi BERMUTU DIJAMANNYA.
dari mulai opening samapi ending film ini saya menemukan yang baru dr film-film sebelumnya dijamannya.
@tetapi yang jadi pertanyaan saya, mengapa sutradara memilih sebuah ujian untuk peran seorang fahri yaitu (perkosaan)???
apa karena diilhami dari:
- kisah nabi yusuf
- ….??
- mungkin karena film indonesia hanya begitu-begitu saja.
@u/ sutradara indonesia:
mengapa tidak berani melahirkan sesuatu yang baru??
pendapat saya mengenai film ini:
@menurut pendapat saya film ini sangat bermutu
dilihat dari segi alur cerita, suasana, nilai islam.
tapi ……..saya tidak suka ujian yang diberikan peran fahri.
itu yang menjadikan film ini………….membuat penonton berkedip.
@saran cari alternatif/cari yang baru ujian buat peran fahri,
itu tugas sutradara…….
aku suka film ini, film ini masuk kejajaran KOLEKSI-ku.
terima kasih, very goog for sutradara.
Saya sich udah baca novel2nya Habiburrahman, keren abis termasuk AAC ini. Novelnya gw acungin jempol 4, bikin pengen baca ga cuman 1 kali. Tapi kalo filmnya saya belom bisa comment pasalnya saya belom nonton (rencanya Insya Allah hari ini nonton), tapi mudah-mudahan aja bagus sebagus novelnya… tapi buat gw novelnya yang tetep TOPBGT hehehe,…
Assalamualaikum Wr. Wb
Terima kasih untuk info masihnya. Insya Allah, saya memang mau nonton film itu. Rencananya minggu besok atau jum’at nanti. Nunggu hari libur, gitu. Sudah lama penanyangannya saya tunggu2.
Assalamualaikum wr.wb
Insya Allah besok baru mau nontonnya….setelah sekian lama nunggu2 pengen liat kaya gimana sih filmnya…apakah sebagus novelnya?? kayanya sih gak
tapi boleh juga ditonton untuk mengobati rasa penasan….sendiri pula lagi nontonnya..hiks..hiks..hiks…but nevermind..kadang2 asik jug menikmati kesendirian..hehehehe…..
nanti setelah nonton filmnya saya kasih comment lagi yaa….
Assalammu’alikum….
Syukron atas massagenya…buat mei sndri nunggu DVD nya aja deh hehehe…bis lbh enjoy nonton d rmh. Mei sdh liat sedikit pembuatannya di web sutradaranya (Hanungbramantyo.multiply.com) mudah2an film ini membawa dampak yang positif bagi semuanya…oh ya lebih seru lagi kalo baca lngsung novelnya mei aja sdh 4 kali baca wktu kuliah dulu hehehe…4 kali baca ya 4 kali nangis deh…lam knl ya ka’
Ass.
He… baru semalem nonton bareng kakak, walaupun sempet dpt protes dr temen yang katanya bioskop ga kondusif, tapi saking penasarannya akhirnya nonton juga, dan kalo boleh jujur itu pertama kalinya kami ke bioskop…he..!!
Untuk Novelnya, Subhanallah bagus banget…!!! Tiap kali baca, pasti nangis dech,… Nilai Islamnya membuat yang baca tidak merasa digurui tapi merasa tertohok oleh kata2nya…(bingung ya…)… pokoknya dalem banget…
Untuk Filmnya…, sama bagusnya…!!! ya mungkin kita perlu memaklumi kalo memang ada beberapa kekurangan,…
Justru yang membuat saya agak kecewa adalah adegan2 yang mungkin menurut beberapa orang sepele,
contohnya waktu fahri curhat ama saiful di cafe, disitu Mas fahri nya minum jus pake tangan kiri, or waktu dapat ashir mangga dr maria kmdian di minum sambil jalan…
Menurut saya, ikhwan sekaliber fahri pastinya ga akan melakukan spt itu,…
kayaknya, pendapat dari D dan Dodi Dharma setuju juga tuch…
Ehmmm, kalo novel ketika cinta bertasbih di filmkan, bagus jg kalee…
salam kenal juga,…..
Assalamu’alaikum..
lagian aq juga bingung mo non ton ma sapa…
Aq penggemar novel2nya kang Abik, tp Hm…aq belum liat neh pilemnya AAC. Dari beberapa comment ko responnya negatip..kurang sesuai dengan novelnya..tapi memang memfilmkan cerita novel itu ga mudah.apalagi yang novelnya udah laku keras di pasaran , pasti banyak yang kecewa setelah di pilemkan..
kalo aku lebih seneng baca novelnya, soale kita bisa mengimajinasikan cerita yang ada dalam novel tsb,.so berasa kaya sutradara..bikin pilem sendiri dalam ruang imajiku..
Jazakumullahu khaira untuk Mailnya
Wassalam
Sangat seru and menarik and luar biasa film ayat – ayat cinta itu kalau jiwa MELANKOLIS so pasti akan tak terasa berlinang air mata,ayo geura nonton film nya bagi yang masih belum nonton.
kayaknya seru ya, jadi pengin segera pulang Indonesia. Maklum lagi di negeri sebrang yang komunitasnya beda dengan di Indonesia so akses film gituan susaaaaaaah .. Btw good lucky deh bagi yang sudah mengenyam hikmah dan ibroh semoga banyak manfaatnya bagi kehidupan
ass..
belum nonton AAC si, tp udh baca novelnya..ceritanya ok, orisinil..tp denger2 filmnya ga gt memuaskan ya….
nanti mo nonton d, belum sempat aja, hehe…..^ ^
ass mas….
wah suruh ksh comment ya about AAC
klo menurut-q siy, film-na bagus bgt, jarang atau bahakan tak ada film yg memiliki bobot ‘value’ kayak gt. yah walau terlepas dari pro kontra yg ada, tp aku cukup simpatik n salut. keren bgt, cocok bgt buat masy Ind yg butuh keteladanan real
film yg sederhana tp bermakna dalem bgt:-)
Pesan2 moral yg tinggi, indah bgt dilihat, dirasakan, bahkan dihayati
kadang tanpa sadar kita membandingkan kondisi real diri kita dengan tokoh yg ada,…..:-)
cukup menginspirasi lah….
tp yg jd fenomena unix skrg, yaitu sindrom cow2 ingin seperti fahri, punya istri yg sifatnya kayak aisya, yg rela dan ikhlas suaminya menikah lg….
yah kembali lg dech….. (to be continu aja dech comment-na)
matur nuwun
lom smpt melototin.. cuman kalo lihat2 komen2 dimana2.. kayaknya layak ditonton.. moga.. pilm2 kita kedepan bisa niru aac kali..
.. salut ditunggu pilem karya mas sandi yang masih muda..
Ass. Wr.Wb
Alhamdulillah aku dah nonton n kebetulan juga punya Novelnya. Klo dibandingin jauh lebih bagus novelnya sich namun setidaknya sebagai muslim beruntung karena ada salah satu tayangan yang bagus di bioskop yang bernafaskan islam. Dari segi tema, alur cerita, serta perwatakan tokohnya pas banget dengan pemilihan pemainnya, contohnya Fedi Nuril karakternya n secara fisik gambaran orang indonesia banget demikian pula dengan tokok aisyah n maria. pokoknya T O P be ge te. Kapan lagi ya ada tayangan film religi yang bisa memberikan pencerahan bagi generasi muda islam???
Pas nonton AAC ternyata airmata netes juga… duhhh sedihnya saat keikhlasan mengalahkan ego diri…..dan ternyata ikhlas sejati tidaklah dapat dirangkai dengan kalimat indah dari lisan yang manis…..
ass.wr.wb
film yang bagus. sedih, terharu, bangga…sama filem yg kayak gini. cuma agak kecewa tdk mirip seperti novelnya. tapi film ini layak bgt untuk ditonton. great movie ever…..four thumbs up…
Assalaamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh
Alhamdulillah sudah nonton 2X di bioskop Setiabudi 21 di Jakarta. filmnya bagus banget. Saya nonton waktu masih premier yang midnight, itu aja yamg nonton penuh, cuma bangku depan saja yang kosong. Yang nonton dari berbagai kalangan, gak nyangka kalo orang-orang gaul dengan pakaian mini juga suka dan mau nonton film AAC ini, bahkan waktu mulai tanggal 28/2 sampai sekarang antrrian panjang menghiasi bioskop “AAC”, sampai2 pihak manajemen bioskop kewalahan dan banyak penonton yang sudah antri beli tiket gak kebagian. AAC ini benar2 fenomena baru di perfilman Indonesia, sebelumnya saya kurang suka membaca novel dan nonton bioskop, tetapi setelah membaca novel dan menonton film AAC sekarang jadi keranjingan baca novel. Film AAC juga gak kalah seru, saya saja sampai terharu dan hiks 3X nangis. Pokoknya AAC T-O-P banget. Semoga film seperti AAC nantinya akan menghiasi perfilman dan bioskop Indonesia dan Asia Tenggara, tidak seperti film2 horor dan percintaaan “semu” remaja yang kurang mendidik. Bangsa ini butuh tontonan yang mendidik dan memberikan inspirasi untuk kebaikan. Jadi, selamat untuk AAC. Semoga tetap jaya
Aq kebetulan ydah ntn filmnya n punya novelnya…. so Aq sependapat dengan sebagian besar comment yg udah ada diatas… msh lbh bagus novel drpd filmnya… penghayatan peran juga masih kurang… tp apapun itu, Aq menghargai setinggi-tingginya atas usaha dan kerja keras dari smua yg terlibat dari pembuatan film AAC ini…. merupakan satu kebanggaan hasil karya dari putra bangsa ini…. SELAMAT…
aku udah nonton filmnya. baguuus bgt. walopun agak beda dgn novelnya, tp aku hargain jerih payahnya pake 2 jempol dah. soalnya aku yakin pasti susah bgt memfilmkan novel yang udh terlanjur dicintain ma pembaca2nya. soalnya aku sndiri (sbg pembaca novel AAC) bner2 berharap bahwa film ini mampu memuaskan theatre of mindku.tapi kalaupun engga, itu sih wajar, kan setiap org punya imajinasinya sndiri2. lagian, ngomentarin film dgn novel itu hrs dibedain. klo film yg ditonjolin adalah kualitas gambar dan sound effectnya (selain alur cerita tentu), novel dari gaya bahasanya atau dari segi sastranya. overall, keren lah.
Saya terus terang belum pernah bac novelnya, nonton juga karena ada saudara yang beli bajakannya… hebat ya bangsa kita? Secara cerita, overall bagus… sepakatlah dengan yang diatas, sinematografi ok lah… hanung gitu. Secara komersial OK juga, kalau dilihat film ini sudah memiliki unsur-unsur yang akan jadi best seller good script, good music, famous artist/actors. Makanya wajar kalau masih ada yang kurang hehehe MD gitu lo.
Cuma saya nggak tau soundnya kalau di bioskop timbul tenggelam nggak? maklum secara saya nonton bajakan doang, ada rencana beli dvd/vcd aslinya kalau sudah keluar nantinya… terus musik latar yang diambil dari film Taegukgi apa bener dipakai? Soalnya musik itu pernah menuai kontroversi saat dipakai untuk film ekskul (bener nggak nulisnya?).
Saya masih berandai-andai apa jadinya kalau yang menggarap sinema art, atau mira lesmana? apakah lebih baik? hmmm
sudah nonton.
yg jelas yg jadi aisyah gak cocok. bayangan gw buat figur ia tuh cocoknya bukan vj rianty tapi si tamara bleszinky (maap tulisannya pasti salah) dan yg jadi fahri juga ga cocok kalo di fredy nuril itu terlalu kecil…hmmmm, kenapa ga donny damara, secara fisik dia cocok.
thx da dikasi kesempatan komen
Ass.wr.wb
akhirnya kesampean juga nonton AAC..setelah berminggu-minggu mo nonton ga jadi2….alone pula nontonnya
….
secara keseluruhan menurut saya film ini bagus..tapi emang masih jauh banget dibanding bukunya…saya sih kurang suka dengan bumbu cerita poligami yang sebenarnya dalam buku tidak sampai sejauh itu….tapi..lumayanlah untuk sebuah film bernuansa islam…. mudah2an aja ketika cinta bertasbih juga akan dibuat filmnya…semoga sih transformasi ke layar lebarnya lebih bagus dibanding AAC….
wass.wr.wb
Ass… alhamdulillah saya udah nonton AAC….seru abiiiz… kisahnya bagus…bikin saya sedih, dan terharu dengan ceritanya…semoga aja, dengan adanya film2 seperti ini, bisa menambah kreativitas tentang film2 islami…
Assalamualaikum
Terima kasih messagenya di friendster saya.
Saya sudah nonton AAC kemarin sabtu bareng ibu saya dan novelny sudah saya baca sejak 2 tahun yang lalu.
Mengenai novelny saya acungi 4 jempol untuk kang Abik yang bisa membuat novel sebagus itu. Membacanya membuat kita bener2 memahami indahnya Islam.
Mengenai filmnya menurut saya cukup bagus. Jarang-jarang ada film yang bernuansa islami bisa booming di bioskop2 seperti ini. Setelah hampir 1 bln tayang di Yogya pun tiketnya selalu habis terjual. Yang nonton juga ga cuma anak muda tapi sampai lanjut usia juga padha nonton. Subhanallah..
Sayangnya ada banyak hal yang diubah dari novelny, jadi ada beberapa pendekatan yang berubah. Tentang konsep poligami itu juga saya ga sreg. Terus terang saya ga suka dengan bagian itu. Beberapa orang bilang mungkin sang sutradara memasukkan bagian ini sebagai pelajaran bagi orang-orang indonesia bahwa poligami itu tidak gampang. Tapi entah kenapa saya tetap merasa nggak sreg setiap melihat adegan itu.
Fahri di film juga tidak sealim di novelny. Mungkin beberapa orang berkata di film ini Fahri lebih manusiawi dan membumi. Tapi hal ini justru merubah image-nya sebagai seorang Fahri yang begitu memahami ajaran Islam. Hal-hal kecil misalny minum sambil berjalan atau berjalan bersisian sambil bersenda gurau dengan Maria sepertinya tidak akan dilakukan oleh Fahri yang ada di novel.
Bagaimanapun, kita perlu mengacungi jempol untuk Hanung Bramantyo yang mampu mengangkat nilai2 Islami dalam film2 Indonesia. Paling tidak film2 Indonesia tidak hanya diisi dengan film2 yang berbau horor dan komedi saja. Ada film Islami di Indonesia. Menurut saya ini awal yang bagus.
Wassalam
mmh..h….
kurang ship lah klo menurut ku, tapi gpp lah kita harus cinta produk Indonesia.
Secara konsep bagus, tapi karena dah baca bukunya jadi kelihatan hambar..karena terlalu jauh dari harapan.. gitu sih.
tapi bagus…bagus… terus ditingkatkan lagi
kita tunggu aja seri berikutnya
ketika cinta bertasbih
ass.
sebenarny sudah nonton aac. pada dasarnya menceritakan tentang kehidupan anak muda yang ada di perantauan n perjuanganny.
bagaimanapun disadur dari novel…toh masih ada kurangnya…
kurang islami… masih ada adegan yang seharusny tidak di syut scr nyata.. ke syut jg.. (tau sendirikan).. tp 4 begginer gpp….bgmn pun jg usaha cineas indonesia untuk mengusung islam dalam bentuk film layar lebar perlu di acungi jempol.
what ever walaupun masih ada perbaikan disana sini..
suatu product mmg ga ada yg sempurna..
mgkn kalau semua isi novel diangkat.. bisa ntn 2 hari 2 mlm..
paling ga…ketika saya menonton dg teman2 film ini ada aturan islam yang dapat dipelajari tanpa menggurui…
mereka bilang…ternyata begitu ya.. kalau ada yang iseng2(cowk)…oii istighfar…
Alhamdulillah..adalah efek dari film ini. walaupun hanya segelintir..tp ada usaha untuk merubah sikap jahili..ke arah yang lebih baik…
Sampai sekarang belum nonton filmnya.
Pertama karena sudah suudzon duluan. Jangankan novel Indonesia, Harry Potter aja nggak di-film-kan sebaik novelnya.
Jadi mending nggak nonton film nya AAC.
yang kedua, karena sudah ada prolog dari teman yang nggak enak. teman yang selama ini saya jadikan referensi tontonan film yang bagus.
Puas mencela katanya .
jadi,saya baca novelnya aja deh
Mudah-mudahan film dari novel selanjutnya lebih baik
Saya kira karya film dan novel akan selalu berbeda, karena dua hal itu adalah hal yang berbeda juga. Itu semakin saya sadari sekarang, kebetulan saya prosesnya terbalik dari nonton filmnya dulu baru membaca bukunya.
Menurut saya filmnya cukup berhasil mengadaptasi novelnya, bukan hanya dalam bentuk film tapi untuk orang kebanyakan di Indonesia… saya bilang “orang kebanyakan” ya, karena begitu saya menenggelamkan diri dalam novelnya ada beberapa hal yang terasa indah tapi akan sangat garing jika dalam bentuk visual. Katakanlah prosesi pernikahan fahri, atau dialog fahri dengan maria di tepi sungai nil… mereka berdua aja ya? fahri di novel nggak akan begitu, tapi begitu di film menggambarkan kedekatannya akan sangat sulit, mungkin bisa tapi akan banyak menciptakan simbol. dan untuk bermain dengan simbol-simbol tidak akan banyak difahami oleh “orang kebanyakan”.
Ada banyak pertimbangan saya kira dalam film ini, antara content yang bagus dan pemasaran. dan menjadi kekaguman saya dimana hanung bisa menciptakan suatu karya antara 2 itu, seperti yang telah dia lakukan terhadap film jomblo. Suatu apresiasi tersendiri.
Hanya suatu pendapat… no offense
Sebelum filmnya dibuat, saya sudah membaca novelnya beberapa kali, walaupun novel tersebut adalah pinjaman dari teman…..waktu membaca novel tersebut saya merasa berada dalam cerita tersebut. yang membuat saya terharu disituasi dmana fahri mendapat tuduhan yang bukan dia perbuat. keteguhan dan kesabaran seorang istri dalam membela suaminya, dan rela membagi cintanya…..
tapi satu yang saya sayangkan, kenapa cerita di film tdk sama persis m cerita di novel…..
Tapi walau begitu saya suka m filmnya sebesar 95% aza…
kalau tuk cerita d novel sebesar 100%.
End top abis…tuk semua kru yg bekrjasama dalam pembuatan film ini, keren tuk para pemainnya, udah cakep n penghayatannya buaaaaaaaaaagus banget….
Congrotulation for all…………
Assalamualaikum…wr…wb…
it’s good film ! pesannya nyampe ..klo novelnya ampe gw baca berkali2. Gw lagi nungguin “Ketika Cinta Bertasbih” keluar…neh.
Gile beneer ni film. Klo KCB kapan tayang? denger2 ada casting buat jd pemeran di KCB, ada roadshownya koq. Mo ikut?